Komputer Kuantum Google Belum Mampu Retas Bitcoin

Bukan tanpa alasan kami menyoal kembali tentang komputer kuantum yang mampu mengancam teknologi blockchain Bitcoin. Dalam dua artikel di blog ini pernah kami bahas sebelumnya. Satu di sini dan di sini. Pasalnya prosesor kuantum “Sycamore” milik Google, melalui sebuah penelitian diklaim telah berhasil menghitung persoalan matematika yang sangat-sangat rumit hanya dalam 200 detik saja. Dengan persoalan yang serupa, beberapa komputer “super canggih” yang dimiliki manusia saat ini perlu waktu hingga 10.000 tahun lamanya!

Dokumen hasil penelitian oleh Google itu diterbitkan di situs web Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada 14 September 2019 lalu, tapi lalu dihapus tanpa alasan jelas. Pihak Google pun belum memberikan pernyataan resmi soal itu.

Beberapa hari kemudian, dokumen itu mencuat ke publik dan menjadi buah bibir sejumlah media massa luar negeri. Sejumlah media kripto dan proyek blockchain pun menyangkutpautkan pencapaian komputasi kuantum itu, bahwa mampu mengancam teknologi blockchain Bitcoin. Padahal Sycamore itu baru berkekuatan 53 qubits, jauh dari cukup untuk meretas blockchain Bitcoin. Apalagi Sycamore itu belum dalam skala besar dan belum menerapkan algoritma Shor. Prosesor kuantum lain milik Google yang lebih besar, yakni Bristlecone sebesar 72 qubit, pun belum mampu.

Secara umum, ada sejumlah poin penting. Pertama, komputer kuantum itu adalah nyata, bukan khayalan lagi. Kedua, kekuatannya, baik secara teoritis, penelitian dan penerapan terus meningkat.

Ketiga, karena telah dan terus akan melebihi kekuatan super komputer masa kini, maka mampu meretas sistem kriptografi tercanggih yang kita miliki sekarang, termasuk sistem kriptografi blockchain Bitcoin dan sejumlah blockchain lainnya yang belum “anti kuantum”.

Keempat, sejumlah ahli menyarankan perlunya sistem kriptografi publik yang benar-benar baru, mengingat kekuatan komputasi kuantum akan berlipat ganda dalam hitungan tahun.

Kelima, sistem blockchain Bitcoin khususnya harus mampu beradaptasi dengan kekuatan komputasi kuantum yang ada sekarang dan yang akan ada di masa depan, agar tak dapat diretas.

Apakah benar komputer kuantum mampu meretas sistem blockchain Bitcoin. Ya, para peneliti ini percaya itu. Mereka memperhitungkan blockchain Bitcoin dapat dengan mudah diretas hanya dalam tempo 10 menit saja, pada tahun 2027, ketika kekuatan komputer kuantum sudah masuk dalam skala besar.

Mereka justru menawarkan alternatif proof-of-work yang disebut “Momentum” untuk diterapkan di blockchain Bitcoin, yang diklaim lebih tahan komputer kuantum. Tetapi ini masih sebatas teori melalui penelitian ilmiah saja.

Nah, kalau kita menggunakan Hukum Moore, yang menyebutkan bahwa kekuatan prosesor komputer berlipat ganda dalam 24 bulan (2 tahun) dan mengacu pada 53 qubits Sycamore, maka pada tahun 2027, komputer kuantum “yang mampu” meretas Bitcoin bakal punya kekuatan sekitar 848 qubits. Tapi, ingat itu sekadar asumsi, hitung-hitungan kasar.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh para pengembang blockchain Bitcoin? Merujuk pada pernyataaan William Hurley dari Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), salah satu caranya adalah dengan menambah panjang urutan “cryptographic keys-nya”. Itu pun dengan asumsi komputer kuantum sudah menggunakan Algoritma Grover.

Namun, Michele Mosca dari Institute for Quantum Computing Universitas Waterloo berpendapat, menambah panjang urutan “cryptographic keys” pada sistem enkripsi yang ada sekarang bukanlah solusi tepat. Ia justru menyarankan ilmuwan harus membuat sistem kriptografi yang benar-benar baru. Ini bisa dicapai lebih dari 10 tahun.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa “supremasi” komputer kuantum milik Google itu tidak atau belum dapat meretas blockchain Bitcoin, karena kekuatan belum besar dan masih dalam skala kecil. Tapi yang pasti, peningkatan kekuatan komputer kuantum terus berlanjut, dan teknologi blockchain, termasuk Bitcoin, harus beradaptasi dengan itu. [*]

 

Be the first to write a comment.

Your feedback