22 Negara Sudah Masuk Jurang Resesi, Kita Harus Bagaimana?

Sedikitnya 22 negara sudah masuk jurang resesi karena pertumbuhan ekonominya menyusut selama dua kuartal berturut-turut, akibat pandemi COVID-19 yang memaksa mengendurnya aktivitas ekonomi. Indonesia juga terancam keok. Lantas, kita harus bagaimana?

Jauh sebelum pandemi ini, prediksi resesi sudah ramai diramalkan. Itu bukan karena penyakit baru misterius itu, namun selayaknya sebuah “siklus harus” ekonomi dunia, mulai dari laju perdagangan dunia yang melambat dan kesejahteraan yang tidak merata.

Dan ketika pandemi itu tiba, rasanya resesi dan keruntuhan ekonomi akhirnya tak terbantahkan, karena memang sudah sangat rentan

Hingga 23 Agustus 20220, beberapa negara yang telah dilaporkan masuk ke jurang resesi hingga kini yaitu Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Inggris, Polandia, dan Jerman.

Selain itu juga ada Prancis, Spanyol, Austria, Belgia, Finlandia, Latvia, Lithuania, Belanda, Amerika Serikat, Meksiko, Skotlandia dan Italia.

Sebagian besar negara itu adalah mitra dagang Indonesia. Resesi di negara itu bisa berdampak domino di negara kita, yang saat ini berstatus “resesi teknikal”.

Indonesia pada kuartal kedua 2020 telah mengalami “resesi teknikal” di mana Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product/ GDP) terkontraksi sebesar 5,32 persen dalam basis tahunan (Year on Year/YoY), meski pada kuartal pertama masih tumbuh positif 2,97 persen.

Resesi sendiri terjadi bila GDP atau PDB suatu negara terkontraksi atau minus secara basis tahunan selama dua kuartal berturut-turut. Lihatlah GDP AS menciut minus 32,9 persen pada kuartal II 2020.

Kontraksi itu luar biasa besarnya sejak tahun 2011. Kontraksi mini terjadi pada kuartal I 2011 di kisaran minus 1 persen dan 1,1 persen kuartal serupa tahun 2014.

Dilansir dari Detik.com beberapa hari yang lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kuartal I turun dari yang biasanya 5 persen jadi 2,97 persen, kuartal II bahkan kontraksi ke 5,3 persen.

“Di negara lain kontraksinya bisa dalam sekali di atas belasan bahkan puluhan persen,” kata sang menteri.

Itulah sebabnya pemerintah Indonesia terus mengguyur anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang mencapai Rp 695,2 triliun. Tujuannya agar pemerintah mampu menahan perekonomian nasional tidak menurun tajam.

Kamar Dagang Indonesia (KADIN) pun seakan-akan sulit menyembunyikan rasa was-wasnya gara-gara resesi 22 negara itu.

Menanggapi kabar buruk ini, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta Kamdani mengatakan bahwa Indonesia mungkin akan menjadi negara baru dalam daftar tersebut mengingat akan sulit bagi ekonomi republik ini untuk tumbuh di kuartal III (Q3), yakni periode Juli-September (92 hari) mendatang.

Katanya kepada CNBC 23 Agustus 2020 lalu, saat ini kelihatannya sulit untuk menghindari resesi karena di kuartal III secara realistis ekonomi akan tetap tumbuh negatif, walaupun akan ada perbaikan yang cukup signifikan dari kuartal II.

Shinta juga mengkritik upaya pemerintah yang kurang cukup berhasil mendistribusikan sejumlah stimulus ekonomi yang sudah dicanangkan, khususnya bagi usaha nasional, seperti di sektor ekonomi riil.

Rizal Ramli mantan Menko Perekonomian RI memaparkan hal sebaliknya. Dia justru yakin Indonesia sudah mengalamai resesi.

Menurut Rizal, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I yang sebesar 2,97 persen sudah mengalami kontraksi 2,41 persen dibandingkan dengan kuartal IV 2019.

Kemudian pada kuartal II, pertumbuhan ekonomi lagi-lagi terkontraksi -5,32 persen atau minus 4,19 persen ketimbang kuartal I 2020.

Toh, Selama 5 tahun terakhir, Indonesia memang kurang menarik menjadi tujuan investasi. Antara lain disebabkan oleh hambatan regulasi, kualitas kelembagaan, dan insentif tak sesuai kebutuhan investor.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2020 akan minus 3 persen hingga minus 4 persen.

Jika terjadi, Indonesia akan masuk jurang resesi karena kuartal II-2020 telah minus 5,32 persen.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal. Dia memprediksi ekonomi Indonesia akan resesi di kuartal III 2020 dan sepanjang tahun 2020 ekonominya akan minus 1,5-3 persen.

Ini yang Terjadi di Tengah Badai Resesi
Kita tentu berharap Indonesia tidak akan jatuh ke jurang resesi, kendati fakta di lapangan mungkin kian berbeda dan kita rasakan sendiri.

Ketika resesi akan banyak terjadi pemutusan hubungan kerja. Kemungkinan bagi pekerja yang memiliki kontrak jangka pendek, tidak akan diperpanjang.

Siap-siap saja dirumahkan dan beralih peran sebagai pengangguran, karena perusahaan tidak sanggup lagi menggaji, akibat daya beli masyarakat terhadap produk mereka menurun.

Lihat saja perusahaan Sampoerna sudah merumahkan lebih dari 7 ribu karyawannya, sejak Januari-Agustus 2020.

Dari sudut pandang perusahaan itu adalah logis, karena perusahaan harus bergerak seefisien mungkin agar perusahan tidak bangkrut.

Syukur-syukur ada perusahaan yang punya dana jumbo agar bisa mempertahankan karyawannya agar terus bergaji. Tapi perusahaan sejenis itu hanya sedikit.

Tingkat pengangguran yang meningkat juga berpotensi munculnya masalah-masalah sosial, seperti kriminalitas.

Di Amerika Serikat, per April 2020 sekitar 20 juta warga AS yang kehilangan pekerjaan. Kenaikan itu berarti tingkat pengangguran lebih buruk daripada sebelumnya sejak Depresi Hebat tahun 1930-an.

Sejak pandemi dimulai, AS telah mengalami angka pertumbuhan terburuk dalam satu dekade dan laporan penjualan ritel terburuk dalam catatan.

Pada Maret 2020, tingkat pengangguran berada di 3,5 persen, terendah dalam 50 tahun.

Namun, kenaikan itu agak tertekan ketika Pemerintah AS akhirnya memutuskan pelonggaran lockdown agar ekonomi bisa terus berputar.

Data terakhir, Juli 2020 jumlah pengangguran menyusut menjadi 16,8 juta orang. Tetapi tetap saja itu sangat tinggi dibandingkan masa-masa krisis sebelumnya.

Sedangkan di dalam negeri, per Juli 2020, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) /Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa mengatakan bahwa angka pengangguran akibat COVID-19 meningkat sebanyak 3,7 juta jiwa.

Dia menyebut angka tersebut sekitar 50 persen dari jumlah pengangguran yang ada, alias 7 juta orang. Menteri mengakui angka itu relatif besar.

Saham Amblas, Emas dan Bitcoin Mengganas
Saat ini, kendati pasar saham di AS dan di Indonesia cenderung rebound, akan tetapi belum bisa disebut masuk wilayah pemulihan penuh. Penyebabnya adalah masih ada kekhawatiran gelombang kedua pandemi di sejumlah negara.

Lagipula angka penularan dan kematian masih terus bertambah dan sejumlah vaksin yang ada masih dalam fase ujicoba.

Dalam situasi ketidakpastian itu, menurut kami, emas dan Bitcoin masih layak dijadikan pilihan untuk melindung kekayaan Anda.

Emas juga, kendati setelah menembus level psikologis US$2 ribu per oz lalu terkoreksi, dalam 12 bulan ke depan masih berpotensi terus menguat. Demikian juga Bitcoin akan berpeluang masuk ke wilayah US$15 ribuan pada akhir tahun ini.

Kesimpulan
Pada dasarnya krisis dan resesi adalah siklus yang alami, bahwa tren naik akan ada masanya menjadi lemah, lalu turun.

Hanya saja yang penting, kita harus memupuk kemampuan kita membaca gejala-gejalanya dan mempersiapkan diri kita menghadapinya. [*]




Comments are closed for this post.