Bahaya Deflasi, Terbitkan Depresi Hebat Episode ke-2?

Inflasi yang buruk sebagai akibat banjirnya uang dolar dan mata uang fiat lainnya bisa datang di masa depan. Tetapi saat ini, ketika pandemi melanda, deflasi justru lebih dikhawatirkan. Dampaknya bisa luar biasa, yakni depresi hebat seperti tahun 1929 yang melanda Amerika Serikat dan merembet ke negara lainnya. Depresi hebat itu pulih dalam 10 tahun lamanya.

Depresi hebat di abad ke-20 itu masih terekam jelas di benak kaum generasi tua. Ketika itu depresi membuat jumlah pengangguran berlipat-lipat seperti saat ini di AS. Kemiskinan luar biasa, kelaparan tidak dapat dibendung kala itu.

Di masa kini, ketika pandemi memporak-porandakan ekonomi global, bank sentral AS terus menerus menerbitan dolar AS baru ke dalam pasar, termasuk bank sentral negara lain.

Ini adalah langkah satu-satunya yang dianggap efekti demi membalikkan situasi seperti normal.

Namun, virus ganas itu tentu tak peduli ekonomi, tak peduli juga soal nasib miliaran jiwa di seluruh dunia.

Dampak luar biasa pandemi digambarkan jelas oleh James Rickard, penulis buku The New Great Depression: Winners and Losers in a Post-Pandemic World (2021). Ia memang memprediksi soal inflasi buruk di masa depan.

Tetapi ia justru lebih was was soal dampak dari deflasi saat ini yang bisa mengarah pada depresi hebat episode kedua.

Depresi adalah tingkatan lanjut setelah resesi, ketika ekonomi tak pulih-pulih lebih dari dua kuartal berturut-turut.

Penambahan pasokan uang baru lewat stimulus oleh pemerintah dan pembelian surat utang oleh bank sentral justru bisa menimbulkan deflasi parah.

Deflasi sama buruknya dengan inflasi. Jikalau inflasi menandakan ekonomi buruk karena harga-harga barang naik secara drastis, maka deflasi adalah kebalikannya.

Deflasi ditandai dengan murahnya harga barang-barang dan jasa, tetapi sedikit sekali orang yang menggunakan uangnya untuk berbelanja.

Ketika konsumsi turun, ini justru memaksa produsen menghentikan produksinya dan bisa memutuskan PHK kepada buruh dan karyawan.

Di saat yang sama, suku bunga bank yang kecil juga tidak mendorong banyak orang meminjam uang, karena produktifitas menurun. Ini bisa berdampak pula para turunnya nilai pasar saham yang mengandalkan modal dari publik.

Pada akhirnya, nilai mata uang menjadi rendah dan banyak orang tidak percaya lagi. Orang lebih memilih menyimpan uang itu di bawah bantal atau sebagian di bank.

Sebagian lagi memilih aset berisiko tinggi seperti Bitcoin atau membeli emas yang relatif rendah risikonya. Kedua aksi beli itu demi melindungi potensi penurunan nilai uang dimilikinya.

Lihat Bitcoin pada tahun 2020 sanggup tumbuh hingga lebih dari 300 persen dan emas lemas di 28 persen.

Pada awal tahun 2021, ketika nilai dolar menguat, emas sempat terkoreksi 4 persen dan Bitcoin sedikit tertekan.

Namun melambungnya nilai dolar hanya untuk sementara saja, karena rencana stimulus US$3 triliun oleh Biden jikalau tidak diserap baik oleh rakyat jelata, justru menguntungkan status emas dan Bitcoin sebagai aset safe haven dalam jangka panjang.

Yang pasti situasi ekonomi ini tidak tentu, serta tak pasti. Vaksin sendiri belum tuntas terbukti efektif, karena dianggap masih ujicoba, kendati secara klinis terbukti efektif.

Dalam satu sesi menarik di Youtube beberapa waktu lalu, James Rickard, bahkan mengatakan semakin banyak orang tak percaya lagi dengan nilai dolar. Itu sebabnya, katanya, orang membeli emas dan Bitcoin. [•]

Comments are closed for this post.