Dolar AS Terdepresiasi, Banyak Orang Beralih ke Emas dan Bitcoin.

Dolar AS memang tengah dalam tren penurunan nilai tukar terhadap rupiah dan mata uang lain dalam sepekan terakhir, setelah sempat menguat signifikan di pertengahan Juli bulan lalu. Ini yang berdampak beralihnya banyak orang membeli emas dan Bitcoin. Bitcoin menuju US$13 ribu?

Dolar AS kian terdepresiasi terhadap sejumlah mata uang lain. Pelemahan itu membuat mata uang Paman Sam itu telah terdepresiasi 0,76 persen terhadap rupiah selama sepekan terakhir. Siang ini Raja Mata Uang Fiat itu stabil di kisaran Rp14.600 per dolar.

Melemahnya nilai dolar sangat terkait dengan kebijakan moneter bank sentral AS terhadap krisis ekonomi saat ini. Caranya yakni dengan menambah pasokan uang baru ke dalam pasar. Karena krisis ini sangat parah, sehingga memungkinkan bank sentral menambah pasokan uang yang tak terbatas.

Inilah yang menimbulkan sentimen negatif terhadap pasar uang, karena ada risiko inflasi di masa depan. Tak heran investor mengamankan nilai uangnya dengan beralih ke aset safe haven, yakni emas dan sebagian lagi membeli Bitcoin dan sejumlah aset kripto bernilai tinggi.

Lihatlah emas sudah menjulang menjadi Rp1 juta per gram. Di tataran global dengan satuan oz, malah sudah melampaui harga tertinggi sepanjang masa. Emas diprediksi naik terus pada tahun depan.

Sementara itu Bitcoin menanjak cepat sejak 28 Juli 2020 lalu. Ia sukses menembus batas resisten US$10 ribu, lalu dengan mantap masuk ke area US$11 ribu lalu US$12 ribu.

Secara umum Bitcoin berjuang masuk ke wilayah US$13 ribu, melawan resisten 8 Juli 2019 lalu.

Dalam skala mingguan, Bitcoin mampu menembus batas atas pola segitiga, yakni US$9966 (27 Juli 2020) dan memuncak di US$12.028.

Pola segitiga pada Bitcoin dalam skala mingguan. Pasar menyasar masuk ke wilayah US$13 ribu per BTC.

Ini bermakna Bitcoin berpeluang menangkap puncak harga setelah kenaikan pada 28 Januari 2019, yakni di US$13.800. [*]

Comments are closed for this post.