Nasib Aset Kripto Algorand (ALGO) di Tangan Profesor MIT, Silvio Micali

Aset kripto Algorand (ALGO) sedikit banyak serupa dengan aset kripto Chainlink (LINK), karena melibatkan kecerdasan pengajar berprestasi dari universitas ternama. Jikalau Chainlink melibatkan Profesor Ari Juels dari Universitas Cornell, Algorand didirikan dan dipimpin langsung oleh Guru Besar MIT Profesor Silvio Micali.

Profesor Micali adalah pemrakarsa utama teknologi blockchain Algorand yang berkonsensus Proof-of-Stake itu. Sosoknya juga bukan sembarangan, karena pernah meraih Turing Award pada tahun 2012.

Penghargaan itu adalah penghargaan sangat bergengsi di kalangan ilmuwan matematikan dan ilmu komputer, sebagai apresiasi terhadap orang yang berdedikasi terhadap perkembangan ilmu itu. Statusnya setara dengan Nobel Prize.

Nama penghargaan itu juga menghormati jasa besar ilmuwan Inggris, yakni Alan Turing sebagai tokoh peletak dasar kriptografi dan komputer digital.

Algorand dan DeFi
Seolah-olah mengikuti laju gerak hebat sektor DeFi (Decentralized Finance), Algorand pada 19 Agustus 2020 mengumumkan dukungan kuatnya di elemen bernilai lebih US$7 miliar itu. Namun pasar merespons tipis terhadap harga aset kripto ALGO (juga telah diperdagangkan di Triv.co.id dan Tpro.co.id).

“Kami meluncurkan fitur smart contract yang bersifat menyeluruh untuk sektor DeFi dan dApp yang dapat menjangkau miliaran pengguna, puluhan juta transaksi harian, dengan biaya transaksi yang murah. Semua itu memanfaatkan Layer-1 dari protokol Algorand,” sebut Algorand kala itu.

Kendati agak terlambat dengan proyek blockchain lain yang sudah duluan masuk lebih dalam di sektor DeFi, katakanlah Chainlink (LINK), langkah Algorand itu selayaknya diperhatikan sebagai basis fundamental terhadap harga aset kripto ALGO.

Memang, sejak ALGO diperdagangkan pada tahun 2019, silam, harganya kurang terapresiasi. Namun, cukup “selamat” sejak Maret 2020, serupa dengan sejumlah aset kripto lainnya. Itu menjadi penanda baik juga, secara teknikal.

Dalam skala harian, sejak 12 Maret-13 Agustus 2020, ALGO terapresiasi mantap hingga 659 persen (Rp130-10.000).

Hal lainnya, capaian tertinggi itu, 13 Agustus 2020, sudah menembus resisten 24 Februari 2020 (Rp7.100). Artinya, ALGO hanya perlu satu resisten lagi, yakni level US$12.100, yang pernah dicapai pada 10 Agustus 2019.

Jika resisten itu bisa terlampaui, maka harapan besar akan masuk ke wilayah harga tertingginya sepanjang masa, yakni sekitar Rp40 ribuan.

Algorand dan Saham Digital
Capaian lain Algorand yang layak disimak adalah kerjasama mereka dengan Archax pada 27 Agustus 2020 lalu. Perusahaan yang berbasis di London, Inggris itu adalah perusahaan sekuritas yang mengelola nasabah di sektor pasar modal.

Archax tercatat sebagai perusahaan sekuritas pertama di Inggris yang diizinkan untuk menerbitkan versi digital atas saham. Izin itu dikeluarkan oleh Otoritas Pengawasan Keuangan Inggris (FCA).

Wujud digital saham itu disebutkan kelak menggunakan smart contract Algorand dan berjalan di blockchain Algorand sendiri. Pengayaan saham digital sama halnya dengan digitalisasi dolar AS dalam wujud USDT (Tether) yang bersatuan dolar AS.

Saham digital akan lebih memudahkan pengawasan perdagangan saham, karena setiap unit lembar saham disimpan kekal di blockchain melalui smart contract. Archax juga memiliki layanan kustodian (penitipan) aset kripto. [***]

Comments are closed for this post.