Prediksi Harga Bitcoin Ketika Halving III

Bitcoin Halving III resmi dimulai pada Jumat, 12 Mei 2020 dini hari lalu di block ke-360.000. Pengurangan imbalan kepada penambang Bitcoin itu akan berlangsung selama 210.000 block atau setara dengan 4 tahun, hingga tahun 2024. Penambang akan memperebutkan imbalan hanya 6,25 BTC per block.

Pengurangan imbalan itu sejatinya adalah pengurangan laju pasokan BTC baru ke dalam pasar, sehingga membuat jumlah unit BTC menjadi lebih sedikit daripada sebelumnya alias menjadi langka.

Jika interval rata-rata per block adalah 10 menit, maka setiap hari BTC baru yang diproduksi hanya 900 BTC. Sebelumnya adalah 1800 BTC. Jadi, dalam rentang setahun sekitar 328.500 BTC atau total selama 4 tahun berikutnya adalah 1.314.000 BTC, sebelum masuk ke Bitcoin Halving IV.

Tak elok rasanya tak memberikan prediksi terhadap harga Bitcoin pada Halving III ini, melalui sejumlah pendekatan. Paparan kami berikut ini disampaikan oleh Gabriel Rey, CEO Triv, pada webminar “Bitcoin Halving” pada 11 Mei 2020 lalu yang digelar oleh Blockchainmedia.id.

Pertama kita harus menegaskan kenyataan bahwa pasar aset kripto, termasuk Bitcoin berada di dua pasar yang berbeda, yakni spot market (pasar/bursa fisik) dan derivative market (pasar turunan, berupa futures, margin dan lain sebagainya). Dalam hal ini Triv.co.id dan Tpro.co.id adalah spot market.

“Untuk pasar turunan berkelas besar seperti CME dan Bakkt, mereka menyasar pada investor-investor institusi, karena diperlukan modal minimal yang cukup besar dibandingkan dengan di spot market. Dan itu pun diperlukan perantara alias broker. Yang tak dapat disangkal adalah besaran dana masuk ke dalamnya juga meningkat seiring waktu, yang mencerminkan tingkat kepercayaan publik terhadap jenis investasi aset baru itu,” kata Rey.

Kata Rey, dalam 30 hari terakhir nilai investasi Bitcoin di CME mencapai lebih dari US$213 juta. Bandingkan dengan OKEx, yang juga menyediakan futures (berjangka), mencapai US$160 juta dan diikuti oleh Bybit (US$148 juta), Bitmex (US$106 juta) dan lain sebagainya.

Pertumbuhan minta investasi/trade terhadap Bitcoin yang tercermin dari aliran dana ke sejumlah bursa.

“Selain aliran dana yang besar, hal itu bagi saya mencerminkan dua hal, bahwa investor institusi cenderung melakukan short alias menjual, sedangkan investor retail, cenderung melakukan long alias membeli,” kata Rey.

Perpaduan keputusan itu mencerminkan sentimen terhadap pelemahan ekonomi dunia saat ini akibat pandemi COVID-19. Pasar modal belum juga pulih akibat ketidakpastian kapan vaksin penyakit mematikan itu akan tiba.

“Berdasarkan data historis, seperti pada vaksin-vaksin penyakit yang lain, vaksin secara efektif ditemukan kurang lebih selama setahun sejak penyakit itu benar-benar dikenali. Itulah saat, yang saya perkirakan pasar modal dan ekonomi secara makro akan mulai rebound. Ketika itu investor akan mulai masuk lebih dalam lagi ke investasi tradisional itu sembari melihat kembali kecenderungan pasar aset kripto, khususnya Bitcoin,” kata Rey.

Singkatnya, tambah Rey, dalam jangka pendek, andaikan vaksin COVID-19 juga belum ditemukan, dan Bitcoin tidak bisa menembus US$10 ribu lagi, maka kita akan menyaksikan penurunan besar seperti pada 12-13 Maret 2020 lalu.

“Tapi, andaikata ekonomi membaik, akibat vaksin COVID-19 sudah ditemukan, dan Bitcoin berhasil menembus US$10 ribu, kita berharap di akhir tahun ini Raja Aset Kripto itu bisa mencapai US$20 ribu, untuk kemudian diharapkan mencapai harga all time high baru” pungkasnya. [red

Comments are closed for this post.