ADA Apa dengan Cardano?

Sebelum artikel ini kami tulis, beberapa bulan sebelumnya kami cukup fokus memperhatikan perkembangan Cardano (ADA). Cardano menarik tak hanya karena dengan cepat mampu masuk 10 besar kripto dunia dengan market cap lebih dari US$36 triliun rupiah (coinmarketcap.com/CMC), tetapi berani menawarkan konsep sustainibility berkat gagasan Proof of Stake (PoS) yang berbeda dengan pengembang teknologi blockchain lainnya. Padahal Cardano baru muncul kurang dari satu tahun dari tangan Charles Hoskinson, sang “bidan” Ethereum (ETH) dan Ethereum Classic (ETC), pada September 2017. Beberapa DApp pun sedang masuk proses ICO, yang kemungkinan besar kian menaikkan pamor ADA di masa depan.

Ya, Cardano punya daya tarik tersendiri dan bertahan setidaknya di 100 besar kripto di CMC. Loyalis Cardano pun tidak sedikit, yang di antaranya tentu saja ada sejumlah spekulator. Ciri khas Cardano adalah peer-to-peer-academic-centris, maksudnya semua pengembangan Cardano dikerjakan, diuji dan disiapkan oleh para peneliti, dosen, dan programmer dari perguruan tinggi dengan tingkatan peran tertertentu sebelum hasilnya diterapkan kepada publik. Semua yang terlibat adalah yang benar-benar pakar di bidangnya.

Semangat peer-to-peer ini bukanlah mengadopsi dari dunia komputer, tetapi memang menjadi tradisi penelitian di perguruan tinggi, seperti misalnya jurnal penelitian sebelum disetujui dan diterbitkan ke jurnal.

Whitepaper Cardano juga dilakukan demikian. Jadi, alih-alih menulis whitepaper dan menerapkannya langsung ke kode, tim Cardano benar-benar memastikan bahwa para ahli dari seluruh dunia membaca makalah mereka, memperbaiki mereka dan menyetujui hasilnya. Algoritma Ouroboros Cardano misalnya dibuat oleh Profesor Aggelos Kiayias dari Universitas Edinburgh, Inggris.

Cardano mengklaim sebagai generasi ketiga blockchain dan kripto. Generasi pertama adalah Bitcoin dan pada dasarnya adalah emas digital. Ini digunakan untuk mentransfer dan menyimpan uang virtual tetapi diliputi masalah skalabilitas. Generasi kedua dimulai dengan Ethereum dan membawa kita ke konsep smart contract (kontrak cerdas). Yang ditawarkan Ethereum kurang lebih mampu meningkatkan skalabilitas, tetapi tak cukup untuk menjadi mata uang global.

Namun generasi ketiga ini ingin mengambil posisi dua generasi sebelumnya dan memperbaikinya agar lebih baik. Saat ini Cardano dan IOTA keduanya dianggap sebagai blockchain generasi ketiga. Cardano ingin memecahkan tiga isu penting blockchain saat ini, yakni: skalabilitas, interoperabilitas dan keberlanjutan (sustainibility).

Kita mulai dengan skalabilitas, yang terdiri dari tiga masalah yang harus dipecahkan, yakni transaksi per detik (TPD), bandwidth jaringan, dan penyimpanan. TPD adalah yang paling diutamakan supaya kripto dapat menjadi sistem pembayaran global. Di sini sistem blockchain harus mampu menangani banyak transaksi per detik.

Sistem Ouroboros Cardano memecahkan masalah ini dengan mengadopsi Proof of Stake (PoS), bukan Proof of Work(PoW). Anda sudah tahu bahwa Bitcoin menggunakan algoritma PoW dan memungkinkan setiap orang memvalidasi blok transaksi baru dan mendapatkan bitcoin baru sebagai imbalannya. Proses ini terbukti berjalan lambat dan tidak hanya menghabiskan banyak daya komputasi, tetapi juga menghabiskan banyak listrik, kendati beberapa pengembang telah membuat layer tambahan yakni Lighting Network supaya transaksi lebih lekas. Namun node (simpul) jaringan yang mendukung layer ini jumlahnya lambat bertambah. Beberapa pengembang baru blockchain pun semakin banyak percaya, bahwa masa depan blockchain adalah di PoS.

Cardano diklaim jauh lebih efisien. Dalam PoS tidak ada istilah penambang, tetapi disebut validator untuk membuat sebuah blok baru. Setiap validator harus memiliki jumlah koin Cardano (ADA) yang banyak agar bisa berperan sebagai validator.

Jadi, di Cardano tidak mengizinkan semua orang di dalam jaringan membuat blok baru. Sebaliknya, jaringan memilih beberapa simpul untuk menambang blok berikutnya. Dalam Cardano ini disebut Slot Leader.

Rentang waktu sistem di Cardano disebut sebagai Epoch. Setiap Epoch dibagi menjadi beberapa Slot. Setiap slot berlangsung singkat, di mana tepat 1 blok dapat dibuat. Jaringan kemudian memilih Slot Leader untuk setiap Slot dan ini adalah satu-satunya pihak yang dapat membuat blok untuk slot tertentu.

Slot Leader memerika transaksi baru, memverifikasinya dan kemudian menempatkan mereka di dalam blok. Jika Slot Leader tidak menyelesaikan tugasnya tepat waktu atau tidak muncul, maka ia kehilangan hak untuk membuat blok dan harus menunggu hingga dia dipilih kembali oleh jaringan secara acak. Teknik ini membuat Cardano sangat terukur, karena mereka meningkatkan jumlah Slot per Epoch dan mereka dapat menjalankan beberapa waktu secara paralel.

Masalah skalabilitas berikutnya adalah bandwidth jaringan. Bandwidth adalah ibarat lebar jalan yang mesti dilalui oleh data. Semakin besar bandwidth-nya, maka jalannya tidak macet dan transaksi berjalan lancar. Blockchain disimpan dalam jaringan peer-to-peer. Setiap simpul di jaringan ini menerima salinan semua transaksi baru. Tapi, bayangkan apa yang terjadi jika ada ribuan transaksi per detik. Simpul akan membutuhkan banyak bandwidth untuk terus mengunduh semuanya.

Sebagai gantinya, Cardano ingin membagi jaringan ke dalam subjaringan dengan menggunakan teknik yang disebut RINA (Recursive Inter-Network Architecture). Setiap simpul akan menjadi bagian dari subjaringan tertentu dan dapat berkomunikasi dengan jaringan lain jika diperlukan. Ini mirip dengan protokol TCP/IP untuk Internet.

Aspek terakhir dari skalabilitas adalah penyimpanan data. Blockchain menyimpan semua transaksi yang pernah terjadi. Tapi, bagaimana kita menangani kumpulan data yang terus bertambah ini? Data blockchain Bitcoin saja sudah lebih dari 200 GB.

Untuk memecahkan masalah ini, pada awalnya Tim Cardano berpikir bisa dengan menerapkan cara pemangkasan, kompresi dan partisisi data. Tapi, ini dianggap tidak menjadi prioritas utama, sebab harga ruang penyimpanan di komputer saat ini kian murah.

Masalah besar nomor dua adalah interoperabilitas yang terdiri dari dua aspek. Pertama, ada banyak kripto dan teknologi blockchain di luar sana, tetapi semuanya belum bisa berkomunikasi dan terintegrasi. Semua menawarkan sistem tersendiri. Padahal fungsinya satu yang uatama, yakni sebagai sistem pembayaran.

Yang kedua, adalah bank dan pemerintah di banyak negara saat ini masih mewanti-wanti teknologi blockhain dan kripto. Beberapa negara seperti Jepang dan Korea Selatan, termasuk beberapa negara di Eropa sudah memiliki regulasi khusus, tetapi secara umum kesannya masih menolak, untuk mengatakan setuju di dalam hati. Namun demikian sejak awal tahun 2018 organisasi keuangan seperti perbankan dan asuransi mulai menerapkan blockchain dan kripto dengan fungsi utama tadi. Setidaknya beberapa melihat faedah ampun blockchain untuk mengatasi masalah transparansi di sistem rantai pasokan (supply chain) industri.

Jadi, tim Cardano berasumsi bahwa di masa depan tidak hanya ada satu koin untuk menguasai semuanya. Sebaliknya, berbagai kripto berbeda akan ada dan berdampingan, masing-masing dengan protokol dan aturannya sendiri, tetapi disatukan oleh satu sistem universal yang memungkinkan mereka terintegrasi atas dasar motif adopsi yang luas.

Satu kelemahan sekaligus kekuatan Cardano adalah di sistem peer-to-peer oleh para pakar. Meski dapat dijamin hasilnya handal, tetapi secara pertumbuhan token dan DApp dapat dikatakan lambat. Hingga detik ini saja belum ada DApp yang menclok di Cardano, walaupun sudah banyak bursa yang memperdagangkan ADA.

Tapi setidaknya akan ada Traxia, yang menjadi DApp dan token pertama yang berjalan di Cardano. Saat ini Traxia dalam tahap ICO.  Kemitraan strategis dengan SIRIN Lab juga patut disoroti, karena dengan ponsel cerdas berbasis blockchain milik perusahaan itu, memungkinkan ADA dijadikan sebagai alat pembayaran.

Yang teranyar, hari ini, Charles Hoskinson mengumumkan peluncuran Icarus Project di testnet Cardano sebagai base code untuk proyek lainnya.  Di antaranya adalah Yoroi, yang akan digunakan sebagai extension di Google Chrome.  Jadi, Yoroi ini mirip seperti MetaMask untuk Ethereum, sehingga pengguna tidak perlu lagi mengirimkan ADA dengan native wallet Cardano, yakni Daedalus yang mengharuskan kita mengunduh semua data blockchain yang besar itu.

Tampaknya Cardano tidak akan melepaskan sistem peer-to-peer review berasas pakar itu itu, karena yakin kepakaran beberapa manusia untuk satu masalah akan membuat sebuah kekuatan tersendiri sebelum dinikmati publik dan industri yang memerlukannya. (vins)

 

Be the first to write a comment.

Your feedback