Alasan Bitcoin Memiliki Nilai.

Pertama, kita harus mendudukkan secara jelas apa definisi nilai (value) dan perbedaannya dengan harga (price). Singkatnya begini: nilai adalah sepadan apakah yang diberikan oleh sebuah produk atau jasa kepada Anda (baik sebelum atau setelah Anda beli). Misalnya Anda membeli buku seharga Rp300 ribu. Buku itu ternyata menginspirasi Anda membuat sebuah produk yang bisa Anda jual kepada konsumen. Katakanlah harga satuannya Rp30 ribu dengan jumlah produk yang terjual sebanyak 100 unit. Maka, secara matematis Anda mendapatkan pemasuk kotor sebesar Rp3 juta. Itulah yang disebut nilai.

Sedangkan yang dimaksud dengan harga adalah sejumlah uang yang Anda bayarkan untuk membeli produk itu. Dalam konteks buku di atas, Anda membeli buku, yang membuat Anda terbeban biaya Rp30 ribu. Itulah harga.

Contoh lainnya soal nilai adalah tentang pembelian peranti lunak antivirus berharga Rp300 ribu. Sebelum Anda membeli tentu saja Anda mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya. Jikalau misalnya tanpa antivirus Anda berisiko kehilangan data yang sangat penting di komputer Anda, apakah itu sepadan berbanding jikalau Anda menginstal antivirus? Anda mungkin berfikir tanpa antivirus pun mungkin data dapat diselamatkan? Nah, di sini pertimbangannya adalah probabilitas. Tentu saja lebih besar kemungkinan data dapat diselematkan dengan menggunakan antivirus daripada sebaliknya. Itu adalah nilai, sesuatu yang diberikan oleh sebuah produk kepada Anda kendati Anda belum membelinya.

Nah, dalam konteks kripto atau bisa kita sebut sebagai aset digital atau uang digital atau uang elektronik, berlaku hal yang sama. Untuk mempermudah pemahaman, kripto kita dekatkan sebagai uang elektronik, karena ini disebut oleh Satoshi Nakamoto, yakni electronic cash. Kita sebut kripto sebagai istilah singkat dari cryptocurrency yang basis teknologinya adalah kriptografi.

Katakanlah hari ini Anda membeli 1 Ether seharga Rp3 juta rupiah. Itu artinya Anda bersedia terbeban sebesar angkat itu untuk membeli Ether. Nah, apakah itu Anda anggap bernilai? Ya, jikalau di waktu berikutnya Anda bisa mendapatkan laba ketika Anda jual kepada teman Anda di harga Rp3,4 juta. Itu adalah nilai di sisi Anda dan di sisi lain dianggapp sebagai harga, yakni yang membeli Ether Anda.

Di atas itu semua, mari kita bandingkan dengan pendekatan teknologi. Uang kertas dianggap memiliki nilai karena: Pertama, uang itu tidak mudah diduplikasi alias dipalsukan begitu saja. Kedua, bisa digunakan kapan dan di mana saja untuk membeli barang dan jasa. Ketiga, dibuat oleh pemerintah sehingga resmi secara hukum dan perundang-undangan.

Dalam khasanah uang elektronik, mengingat karakternya digital, maka sangat mudah disalin begitu saja. Sebab uang elektronik sejatinya hanyalah angka yang dipindahkan dalam wujud transaksi. Inilah yang disebut sebagai double spending, bahwa satu unit uang dapat digunakan beberapa kali untuk transaksi yang berbeda. Sama halnya dengan uang kertas yang sejatinya kertas yang dibubuhkan angka. Tetapi kertas yang digunakan istimewa, memiliki nomor seri dan gambarnya tidak mudah diduplikasi.

Ketika sistem uang elektronik yang diciptakan oleh Satoshi melalui Bitcoin mampu meniadakan double spending, di situlah posisi uang elektronik memiliki nilai yang karakternya sama dengan uang kertas. Dengan kata lain, pemilik 5000 Bitcoin tidak khawatir bahwa ada 5000 bitcoin lain yang sama juga dimiliki oleh orang lain. Jadi, 5000 Bitcoin milik Anda bukanlah hasil duplikasi dari Bitcoin yang ada sebelumnya.

Oleh Satoshi, double spending diwujudkan dengan menyebarkan data transaksi dalam jaringan peer-to-peer. Setiap partisipan bisa mengawasi dan mengamankan data itu, karena setiap komputer data transaksinya berbeda.

Bahwa ketika harga Bitcoin turun dan naik, maka konteksnya adalah permintaan dan penawaran, hal yang sama terjadi pada uang rupiah kita. Uang rupiah tak bernilai terhadap dolar AS, karena sedikit yang membeli uang rupiah itu untuk digunakan dalam perdagangan. Dalam pembelian saham berharga rupiah misalnya, kita berharap pembeli dari dari luar negeri menggunakan uang dolar yang sebanyak-banyaknya agar suplai dolar di dalam negeri bertambah, yang mengakibatkan harga rupiah tidak tertekan.

Jadi, tentang nilai dan harga berlaku sebuah persepsi, yakni persepsi yang menghasilkan trust (kepercayaan). Kita percaya dengan Bitcoin karena tidak ada double spending dan dapat digunakan untuk transaksi. Kita percaya dengan Bitcoin karena biaya transaksinya lebih murah berbanding dengan mengirimkan uang dengan jasa bank. Dan kita percaya jumlahnya suplainya dikontrol, yanng maksimal hanya 21 juta Bitcoin. Dan sejumlah aspek keyakinan lainnya.

Tetapi di atas itu semua, uang (baik kertas ataupun elektronik) adalah sekadar angka atau bilangan. Wujud fisik atau elektronik adalah representasi atas angka itu. Maka, uang sejatinya adalah abstrak di otak kita dan uang ada perwujudan atas keinginan kita untuk mempermudah mendapatkan barang atau jasa, mengatasi jarak atas barang yang tidak ditemukan di tempat kita berbanding dengan barang yang kita perlukan yang ada di tempat lain.

Pertanyaan kita mungkin bergelayut ke soal: bilamana Bitcoin memiliki nilai atau harga sehingga ia dapat dikonversi menjadi uang fiat? Jawabannya bertolak pada kenyataan bahwa para penambang Bitcoin mengeluarkan sejumlah biaya untuk menyediakan akses internet, hardware dan utamanya biaya listrik yang tak murah. Mengingat biaya itu semua berpatok pada dolar, maka harus dihitung dengan satuan dolar. Hasilnya disetarakan dengan jumlah Bitcoin yang didapatkan melalui proses mining (block generation) dan fee transaksi.

Soal konversi ini dapat ditelusuri mundur pada 5 Oktober 2009. Pada saat itu New Liberty Standard mempublikasikan bahwa US$1 setara dengan 1.309.03 BTC. Rumusan utamanya adalah biaya listrik yang digunakan untuk menambang Bitcoin. Pada masa itu US$1 setara dengan Rp9400. Hingga pada 17 Maret 2010, BitcoinMarket.com sebagai exchange pertama, mematok kurs 1 BTC setara US$0,003; Mei 2010, US$0,01 dan Juli 2010, US$0,08.

Nah, perlu diketahui ada aspek difficulty dalam penambangan Bitcoin. Secara protokol, Bitcoin sebenarnya meniru karakter penambangan emas, yang semakin dalam kita menggali tanah, maka diperlukan peralatan yang tidak banyak jumlahnya dan membebani kita dengan sejumlah biaya dan pekerja. Emas itu langka, demikian pula yang dibuat pada Bitcoin yang hanya 21 juta bitcoin. Hari ini baru 17,356,825 Bitcoin yang ada. Sisanya masih dalam proses penambangan.

Bitcoin baru yang tercipta adalah setiap 10 menit dan dirancang setiap 4 tahun sekali berkurang setengahnya. Jadi, kalau hari ini setiap 10 menit Bitcoin baru tercipta hanya 12,5 BTC, maka ketika pada 21 Mei 2020 hanya 6,25 BTC baru tercipta setiap 10 menit dan seterusnya hingga tercapai 21 juta Bitcoin. Ini yang disebut sebagai Bitcoin reward halving. Silahkan baca soal itu di sini.

 

Be the first to write a comment.

Your feedback