Bitcoin dan Resesi Ekonomi 2020.

Sejumlah pengamat memprediksi resesi ekonomi global semakin dekat, antara tahun 2020 dan 2021. Dalam resesi, pasar sahamlah yang duluan tertekan, karena perusahaan menggunakan dana dari publik. Aksi jual besar-besaran pun akan terjadi dan membuat nilai tukar uang negara lain semakin tinggi terhadap dolar AS. Ketika itu terjadi biasanya orang akan membeli emas sebagai safe haven untuk melindungi nilai uangnya agar tak merosot. Tapi, sejak 2013 harga emas tidak naik lagi. Bahkan dalam rentang 5 tahun, emas hanya naik sekitar 20 persen. Apakah Bitcoin menjadi pilihan terbaik sebagai safe haven lagi ketika resesi itu benar-benar terjadi?

 

Adalah Nouriel Roubini ekonom Amerika Serikat pada September 2018 memprediksi resesi ekonomi global 2020 yang dimulai dari kontraksi ekonomi di Amerika Serikat. Ada sejumlah penyebabnya, seperti kebijakan stimulus fiskal yang saat ini mendorong pertumbuhan ekonomi tahunan Amerika Serikat (AS) di atas 2% kemungkinan tidak akan berlanjut. Pada tahun 2020, stimulus akan berakhir, dan hambatan fiskal akan menurunkan pertumbuhan dari 3% menjadi sedikit di bawah 2%.

Ia juga memprediksi Bank sentral AS Federal Reserve, akan terus menaikkan suku bunga Fed Fund Rate dari saat ini 2% menjadi setidaknya 3,5% pada tahun 2020. Menaikkan suku bunga disebabkan oleh pemasukan pajak yang semakin kecil akibat kebijakan pemotongan pajak perusahaan hingga 50 persen di era Pemerintahan Donald Trump.

Di tahun yang sama, JPMorgan juga berpendapat senada melalui laporan terbarunya. Bank raksasa Amerika Serikat itu mengungkapkan, resesi global bisa terjadi pada tahun 2020.

Dikutip dari Bloomberg, Jumat (19/10/2018), probabilitas resesi ekonomi AS dalam kurun waktu satu tahun adalah 28 persen. Adapun probabilitas resesi dalam dua tahun mencapai 60 persen.

Dalam konteks seperti ini, apa itu resesi? Resesi dapat didefinisikan sebagai penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan dalam beberapa bulan, sekitar 2 kuartal (6 bulan) berturut-turut. Sejumlah pihak menilai resesi global tahun 2020 itu bisa lebih parah daripada 2008. Acun lainnya adalah pelemahan mata uang yuan selama beberapa tahun terakhir, termasuk perang dagang dengan Tiongkok yang disulut oleh Trump pada awal kuartal kedua tahun ini.

Tetapi indikator yang dianggap sahih adalah terjadinya “inverted yield curve” pada imbal hasil obligasi (surat utang) pemerintah Amerika Serikat. Inverted yield curve dihitung berdasarkan selisih (spread) imbal hasil antara rentang 10 dan 2 tahun. Metode ini sudah terbukti ampuh untuk menggambarkan tujuh resesi ekonomi AS sejak 1970-an.

Sinyal resesi terbaru terjadi pada 22 Maret 2019 lalu, di mana imbal hasil obligasi tenor 3 bulan (2,4527 persen) lebih tinggi daripada tenor 10 bulan (2,4373 persen). Ini mencerminkan para pelaku pasar melihat adanya kelemahan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri AS. Akibatnya mereka meminta imbal hasil yang lebih tinggi pada tenor yang lebih rendah daripada yang tenor panjang.

Inverted yield curve terbaru terjadi pada tahun 2000-2001 dan tahun 2006-2007. Nah, sejak awal tahun 2019 indikasinya sudah mulai tampak hingga terlihat jelas pada 25 Maret 2019 lalu.

Nah, sekarang pertanyaan paling utama adalah, kapan resesi berikutnya jikalau indikator ini benar? Secara historis, dari 7 resesi ekonomi Amerika Serikat, 1969-2007, rata-rata sekitar 311 hari sejak hari pertama inverted yield curve terjadi. Pada resesi 2000-2001 sekitar 213 sebelum menuju resesi dan 487 hari menuju resesi 2006-2007.

Jika 25 Maret 2019 sebagai patokan inverted yield curve, dan rata-rata 311 hari setelahnya, maka diprediksi resesi berikutnya terjadi pada 31 Januari 2020. Namun, jika jika menggunakan patokan rentang waktu yang paling lama, yakni 487 hari pada resesi 2006-2007, maka akan resesi akan jatuh pada 25 Juli 2020.

Dalam perang berbentuk apapun, pihak yang terlibat pasti akan mengalami kerugian. Hanya saja derajatnya akan berbeda-beda. Trump yang menyasar Huawei, secara “kejam” melorotkan semua keunggulan perusahaan asal Tiongkoknya, yang berpangkal pada tuduhan Huawei melakukan kegiatan mata-mata. Yang terbaru Trump memerintahkan semua perusahaan asal AS menghentikan semua layanan yang selama ini diberikan kepada Huawai, mulai dari penghentian update sistem operasi Android oleh Google dan lain sebagainya.

Yang bikin heboh tentu saja adalah kenaikan bea masuk barang impor dari Tiongkok menjadi hingga 50 persen. Praktis ini membuat panas hati Tiongkok. Akibat tindakan Trump, dari sejumlah media tersiar kabar bahwa Tiongkok akan membalasnya dengan menghentikan ekspor produk mineral langka ke selama ini dibutuhkan AS. Perang dagang seperti ini juga dianggap sebagi pemicu resesi ekonomi global berikutnya, tetapi dibantah kuat oleh IMF belum lama ini.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Christine Lagarde mengatakan bahwa ancaman tarif bagaimanapun melemahkan kepercayaan bisnis dan pasar, serta dapat memperlambat pertumbuhan yang sebelumnya diperkirakan akan membaik tahun depan. Namun, pihaknya tak melihat adanya potensi resesi.

“Kami tidak melihat resesi. Namun, pertumbuhan melambat,” ujar Lagarde dikutip dari Reuters, Kamis (6/6/2019).

Hal lainnya pasar rumah dan properti mulai melemah lagi, sebab tingkat pengangguran juga semakin meningkat. Di sini agak sulit diharapkan warga AS membeli rumah baru lagi, karena banyak yang tak bekerja. Soal tingkat pengangguran ini juga didorong oleh semakin banyaknya imigran tak berkeahlian tinggi hidup dan bekerja di AS. Ketika kalah bersaing, mereka pun akhirnya menganggur. Industri otomotif pun semakin tertekan.

Tapi, sejumlah pengamat melihat ada harapan. Pemenang Penghargaan Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz misalnya berpendapat, ekonomi AS dapat diselamatkan untuk mencegah resesi global jikalau Trump mengendorkan kebijakan sistem proteksionisme ekonominya. Trump juga diingatkan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan penelitian, sehingga banyak warga terangsang untuk bekerja, sekaligus menumbuhkan industri yang baru.

Namun yang pasti, sepanjang sejarah dunia, resesi ekonomi memiliki pola siklus sendiri. Tentu yang masih segar adalah krisis ekonomi 1997, 2000 lalu 2008. Artinya setiap individu masing-masing harus bersiap-siap jikalau krisis itu kembali datang.

Persiapan strategi keuangan tentu disiapkan dengan tetap membeli emas sebagai proteksi nilai uang Anda, walaupun dalam rentang panjang, mungkin kenaikannya kecil. Tapi setidaknya menjaga di kisaran stabil. Anda pun bisa memilih Bitcoin sebagai bentuk proteksi nilai uang Anda. Ini pernah terjadi ketika kali pertama perang dagang AS-Tiongkok, hingga akumulasi besar-besaran terhadap Bitcoin naik dari Tiongkok. Sebab, di saat yang sama Tiongkok melemahkan mata yang yuannya. Ini memaksa warga Tiongkok mengalihkan yuan ke Bitcoin dan jenis kripto lainnya. Di saat yang sama Indeks S&P 500 dan Indeks Nasdaq melorot tajam dan harga Bitcoin pun naik.

Maka, dalam krisis, manusia perlu pedoman yang lebih tangguh daripada sebelumnya. Pasar saham yang sangat bergantung pada uang fiat yang sebenarnya sudah ketinggalan zaman karena sangat inflatif, sukar menjadi pilihan. Agak berbeda ceritanya jikalau membeli saham dalam jumlah banyak sesaat setelah krisis usai, seperti yang terjadi setelah krisis 2008 silam.

Emas dan Bitcoin menurut hemat kami adalah pilihan terbaik untuk melindungi nilai uang Anda, ketika krisis global datang, lalu beli kembali saham ketika resesi usai, di saat saham sangat murah, dan demikian selanjutnya.

Namun, di atas itu semua Bitcoin belumlah terbukti sebagai alat lindung nilai uang ketika resesi terjadi. Walaupun Bitcoin dibuat oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008, ketika resesi ekonomi global terjadi, tetapi pada saat itu Bitcoin belum dikenal publik secara luas. Kenaikan Bitcoin pada tahun 2017 hingga US$20 ribu pun tidak didorong oleh sentimen akan adanya resesi. Pun demikian Anda harus sadari bahwa perdagangan Bitcoin adalah ranah spekulatif dan berisiko tinggi.

Maka, jikalau resesi 2020 terjadi, ini adalah pertaruhan tinggi terhadap emas dan Bitcoin sebagai alat lindung nilai. Apakah ketika saat itu pasar saham menukik tajam, masyarakat akan membeli emas dalam jumlah banyak atau bahkan Bitcoin? Ingat pula, bahwa pada Mei 2020 diperkirakan Block Reward Halving akan terjadi, yang secara historis memampukan Bitcoin naik lebih tinggi daripada Desember 2017 silam. []

Be the first to write a comment.

Your feedback