Bitcoin dan Uang Batu Itu.

Bersifat publik dan transparan adalah dua dari sejumlah karakter yang diusung teknologi blockchain. Gagasan dasarnya tidaklah dimulai dari Satoshi Nakamoto dan yang menciptakan Bitcoin. Nakamoto hanya menyatukan banyak gagasan yang telah ada sebelumnya dan bukan secara kebetulan menyesuaikan diri dengan bertumbuhnya generasi Millenial yang lebih sadar Internet dan gemar berinvestasi, serta tentu saja beragam inovasi di bidang kriptografi dan komputer. Berkat Bitcoin-lah kita disadarkan, bahwa uang dikembalikan pada karakter fitrahnya, yakni abstrak.

Alkisah, sekitar 500-600 tahun yang lalu, Anagumang seorang tokoh ternama dari Pulau Yap bersama beberapa rekannya melakukan ekspedisi ke Pulau Palau. Jarak antar dua pulau kecil di wilayah Micronesia itu sekitar 450 kilometer. Misi utama Anagumang adalah mencari batu sebanyak mungkin dan dibawa ke kampung halaman. Namun batu yang dimaksud bukanlah batu biasa, tetapi batu yang kini dikenal berjenis limestone. Batu jenis ini adalah batu sedimen yang utamanya mengandung kalsium karbonat termasuk beberapa jenis fosil. Karena itu pula, di kalangan ilmuwan, batu itu dikenal sebagai earth choronology karena “merekam” jejak makhluk hidup di dalamnya.

Bagi warga Pulau Yap, batu itu punya nilai, karena mereka tak memiliki perak ataupun emas yang bisa dijadikan standar kepemilikan. Anagumang pun memerintahkan anak buahnya memilih batu yang paling besar yang dapat dibawa dan membentuknya menjadi bundar laksana roda. Agar lebih mudah dibawa ke rakit, ditambahkanlah lubang di bagian tengah. Jikalau beruntung dan punya waktu lebih banyak Anagumang dan timnya bisa membawa pulang batu seberat 4 ton yang berdiameter 4 meter. Semakin besar batu, maka nilainya semakin tinggi.

Sebelumnya, tentu saja Anagumang harus bersepakat dahulu dengan warga Pulau Palau, si empu asli batu. Misalnya batu seberat 4 ton itu setara dengan bahan makanan pokok warga Pulau Palau selama lebih dari 30 hari atau bentuk kesepakatan lain. Pasalnya, Anagumang dan anggota tim hanya membawa hasil bumi Pulau Yap yang dianggap berharga oleh warga Pulau Palau. Nah, Anda sudah menduganya. Ya, kedua belah pihak melakukan kegiatan barter.

Sesampainya di kampung halaman, Anagumang dan timnya menjadikan batu itu sebagai alat tukar atas kebutuhan lain. Misalnya Anagumang perlu barang lain dari sesama warga di Pulau Yap. Setelah Anagumang menerima barang yang dimaksud, pemilik barang tak perlu membawa batu raksasa itu ke rumahnya sebagai bukti peralihan kepemilikan. Kedua belah pihak cukup mengingat transaksi itu, termasuk memberitahukannya kepada warga. Warga itu pun turut dan wajib mengingatnya.

Image result for rai stone

 

Yang menarik, kehadiran fisik batu bukanlah kewajiban untuk sebuah bukti kepemilikan. Katakanlah batu yang dibawa dari Pulau Palau secara tak sengaja tenggelam di dasar laut dan jaraknya sangat jauh dari kampung halaman. Tim pembawa batu cukup memberitahukan kepada warga tentang kejadian itu, dan mereka tetap sebagai pemilik sah batu tersebut dan dapat bertransaksi.

Anda sendiri dapat merasakan atmosfer kepercayaan, abstraksi dan transparansi pada situasi tersebut. Ya, dalam masyarakat berskala kecil dan relatif homogen, itu tidak sulit dilakukan. Nilai sebuah objek dirumuskan dari tingkat kesulitan dan kerja keras membentuk batu itu serta resiko kehilangan nyawa orang-orang yang membawa batu itu. Karakter kronologis dan konsensus dibentuk oleh daya ingat semua partisipan dan diwariskan secara linear.

Disebut sebagai Rai Stone, uang batu itu berhenti digunakan oleh warga Pulau Yap sejak awal abad ke-20, ketika Spanyol dan Jerman bertikai memperebutkan pulau itu. Ketika Kekaisaran Jepang menguasai pulau itu pada Perang Dunia II, batu-batu itu digunakan sebagai bahan baku pembuatan rumah atau jangkar kapal.

Image result for rai stone

 

Tapi, tak semua batu itu sirna. Hingga saat ini ada sekitar 6 ribu batu yang tersisa dan dijadikan sebagai artefak kebudayaan masyarakat setempat, termasuk dijadikan subjek penelitian ekonomi dan antropologi modern. Pada tahun 1991, pakar ekonomi Milton Friedman menyamakan uang batu itu mirip dengan konsep cadangan emas milik Bank sentral Amerika Serikat, The Fed. [vins]

Be the first to write a comment.

Your feedback