Bitcoin Turun 47 Persen, Apa Sebab?

Terhitung sejak 10 Juli 2019 hingga hari ini, Senin (25/11/2019) harga Bitcoin terus tertekan semakin dalam, hingga 47 persen! Harga pada Juli itu kemungkinan besar adalah harga tertinggi Bitcoin untuk tahun ini dan sukar menembus level US$8.000, setelah tersodok hingga US$6.612 pada siang ini. Apa sebabnya?

Terpantau siang ini, harga Bitcoin di Triv | Pro (tpro.co.id) bertengger di Rp93.032.081 alias turun hingga 8,39 persen dalam 24 jam terakhir. Selain spekulasi tingkat tinggi di pasar, sentimen negatif juga sangat dipengaruhi oleh sejumlah kabar burung dari Tiongkok. Salah satunya adalah kabar bahwa kantor cabang Binance di Shanghai ditutup paksa oleh polisi. CEO Binance pun langsung menampik anggapan itu, dengan mengatakan bahwa Binance tidak punya kantor cabang di Tiongkok, apalagi di Shanghai.

Harga Bitcoin masih tertekan. Sumber: Tpro.co.id.

Namun, spekulan tampaknya memanfaatkan situasi itu, hingga trader kalangan retail ikut-ikutan melakukan aksi jual, termakan kabar yang tak benar itu. Panik melanda.

Memang pihak berwenang Tiongkok saat ini sedang melakukan “bersih-bersih negeri” dari sejumlah perusahaan dan kelompok yang melakukan perdagangan aset kripto tanpa izin. Polisi pun merazia sejumlah perusahaan yang melakukan penipuan dengan mengatasnamakan aset kripto.

Aksi bersih-bersih seperti ini sebenarnya pernah terjadi pada tahun 2017 di Tiongkok dan memaksa sejumlah perusahaan aset kripto hengkang dari negerinya sendiri, termasuk Binance. Di saat yang sama “investasi bodong” berselimut ICO juga marak di negeri itu.

Kala itu, pemerintah Tiongkok beralasan, bahwa perdagangan aset kripto berpeluang membuat kaburnya modal ke luar negeri dan berpotensi merusak tatanan ekonomi Tiongkok. Pernyataan itu sangatlah wajar, sebab volume transaksi perdagangan kripto di sana sangatlah besar di kala itu.

Ini serupa dengan investasi asing di pasar modal, misalnya di bursa efek, mereka dapat dengan mudah menarik dananya dari pasar kembali ke negara asalnya, sehingga mata uang dalam negeri membanjiri pasar seketika.

Aksi bersih-bersih itu sejalan dengan pidato Presiden Tiongkok Xi Jinping tentang pemanfaatan teknologi blockchain untuk kemakmuran negeri. Logika dasarnya di sini, agar misi itu terlaksana, maka segala macam hal yang mengatasnamakan teknologi blockchain dan aset kripto dan berpotensi untuk kejahatan pasti akan “dilibas”. Hanya yang legal dan mendapat restu khusus diizinkan beroperasi.

Tapi, syukurlah kegiatan menambang Bitcoin tidak dilarang sama sekali, karena kita tahu sendiri produsen alat penambang Bitcoin, seperti Bitman dan Canaan masih anteng-anteng saja di sana. Bahkan Canaan bisa melantai di Nasdaq, pada 22 November lalu untuk meraup modal dari masyarakat dunia.

Kami melihat efek Tiongkok terhadap penurunan harga Bitcoin hanyalah bersifat sementara, menanti reda ketika Tiongkok sudah bersih dari entitas yang dianggapnya ilegal. Spekulasi tanpa arah sulit dihindari, hingga membuat harga Bitcoin bisa semurah ini. Kita tunggu saja. [*]

Be the first to write a comment.

Your feedback