Dua Kubu Belanja Kripto.

Ada satu hal yang menonjol di diri setiap manusia, entah itu secara pribadi ataupun kelompok, yakni sangat mengagung-agungkan sesuatu dalam rentang setahun, tetapi mengabaikan potensinya dalam rentang sepuluh tahun ke depan.

Dengan memisahkan itu menjadi dua kubu, kita mendapati sebagian orang di dalam kelompok pertama hanya berhasrat tenar atau kaya dalam waktu cepat. Dan ketika menemukan dirinya terjerembab karena berbanding terbalik dengan yang diharapkan, dia mencaci maki orang lain. Padahal ada sebagian kekeliruan yang bersumber dari dirinya, yakni tidak belajar dari riwayat sebelumnya dan memang bermental instan.

Kubu kedua adalah visioner. Mereka dalam kelompok ini sudah memahami potensi teknis di “sesuatu itu”, tetapi tak terburu-buru menanggung manfaat dalam rentang waktu pendek. Alih-alih jatuh di kolam yang dangkal, mereka yang punya kacamata sepuluh tahun merasa lebih baik menggali kolam lain yang lebih dalam dan luas dan menggapai “emas” di dalamnya yang lebih banyak lagi. Bukanlah kolam yang lebih  luas mampu menampung orang lebih banyak lagi.

Bayangkan itu adalah sebuah kolam ikan emas. Para pemancing profesional  biasanya memilih kolam pancing yang lebih luas, yang mampu menampung banyak pemancing lain sebagai pesaingnya. Logika kompetisi di wilayah otak kita adalah: lebih pantas bersaing bermain dengan banyak pihak ataupun bertindak kolaboratif dengan pihak lain untuk tujuan serupa.

Tapi, ya itu tadi, dalam konteks teknologi, apapun itu perlu masa dan kesabaran. Blockchain juga demikian. Dalam beberapa bulan terakhir kita menyadari bahwa investasi ke dalam perusahaan-perusahaan rintisan di bidang blockchain tidak ciut. Ini karena blockchain menjanjikan wajah teknologi di masa depan yang lebih aman, transparan dan efisien. Bahkan IMF mengakui itu berkali-kali. Lembaga peneliti PwC, WEF dan Gartner juga mengonfirmasikan itu berkali-kali.

Ditambah lagi, Fortune, media ternama berpengaruh, menempatkan blockchain sebagai ranah layak investasi, setara dengan di bidang robotika dan kecerdasasan buatan. Masalahnya blockchain dapat dipadukan dengan kedua teknologi itu, setidaknya menjadi satu entitas utuh, yakni Internet of Things. Lihat saja Facebook, Google, IBM dan Microsoft yang banyak mengalihkan perhatian dan duitnya terhadap blockhain ini. IBM misalnya serius menggarap Hyperledger. Bahkan Microsoft sejak 2016 silam punya platform yang sama yang dijual ke banyak kliennya, termasuk Maersk.

Saat ini nilai pasar blockchain dan semua yang terkait kripto mencapai US$700 juta. Pada tahun 2024 diperkirakan meningkatkan sampai US460 miliar. Logika berpikir perusahaan-perusahaan tradisional adalah, daripada mereka dihempas oleh teknologi baru ini, mereka merasa lebih baik menyelam ke dalamnya.

Co-founder Ethereum, Joseph Lubin pernah mengatakan, ia menolak persepsi yang menyatakan bahwa mata uang kripto telah mengalami bubble harga (kenaikan tidak wajar). Menurutnya, Ethereum akan menjadi media investasi jangka panjang yang baik.

Saat diwawancara oleh Bloomberg belum lama ini soal fluktuasi harga yang tidak menentu, Lubin menolak anggapan bahwa koreksi harga menjadi penanda bahwa bubble mata uang kripto telah pecah. Sebab, dalam dunia investasi, penurunan harga tidak dapat dihindari. Bahkan, saat terjadi diskon harga pasar, di saat itulah kesempatan para pengguna baru untuk masuk ke dalam sistem dengan melakukan pembelian mata uang kripto.

Saat ini Ethereum masih terus dikembangkan untuk memecahkan persoalan-persoalan jangka pendek. Di masa-masa mendatang sistem Ethereum akan menjadi lebih stabil dan mampu menangani lebih banyak transaksi lagi dalam jaringannya. Selain itu, regulasi yang baik akan membantu Ethereum untuk berkembang ke arah yang lebih baik, sehat, dan berkredibilitas tinggi di mata penggunanya. []

Be the first to write a comment.

Your feedback