Halving Mei 2020 Lejitkan Harga Bitcoin Hingga Rp2,9 Miliar per BTC?

Bitcoin Reward Halving (cukup disebut halving) sangat penting diketahui oleh setiap trader ataupun investor Bitcoin. Konsep ini adalah hal paling fundamental di sistem Bitcoin, sebagai acuan potensi kenaikan harga Bitcoin di masa depan, sebagaimana yang pernah terjadi pada dua halving sebelumnya.

Apa Itu Halving?
Halving adalah pengurangan pasokan (supply) Bitcoin ke dalam pasar sebanyak separuh (50 persen). Ini merupakan kaidah baku di blockchain agar Bitcoin semakin langka. Halving terjadi setiap 210.000 block (atau setara dengan 4 tahun).

Seperti yang Anda ketahui, hal itu dilakukan melalui pemberian imbalan kepada para penambang Bitcoin. Jadi, dengan kata lain, imbalan kepada penambang berkurang separuh dengan rumusan serupa. Sebab, para penambang adalah yang menentukan pasokan Bitcoin ke dalam pasar, jika mereka melakukan penjualan Bitcoin yang diperolehnya.

Saat ini, pasokan Bitcoin adalah 12,5 BTC setiap 10 menit (periode satu block transaksi). Nah, pada periode halving nanti, pasokan itu berkurang separuh, menjadi 6,25 BTC setiap 10 menit. Dan berlangsung seterusnya setiap 4 tahun. Pada tahun 2024 imbalan 6,25 BTC berkurang separuh lagi, menjadi 3,125 BTC per 10 menit.

Per 17 Januari 2020, berdasarkan data dari www.bitcoinblockhalf.com, halving akan jatuh pada 12 Mei 2020.

Sirkulasi versus Halving
Saat ini, per 17 Januari 2020, pukul 11:40 WIB, jumlah Bitcoin yang beredar adalah 18.165.163. Jumlah itulah yang disimpan ataupun yang diperdagangkan di bursa kripto di seluruh dunia.

Melalui mekanisme halving yang mengurangi pasokan setiap 4 tahun, maka jumlah pasokan total Bitcoin hanya 21 juta unit. Artinya, Bitcoin yang belum masuk ke pasar saat ini (belum ditambang) adalah tinggal 2.834.838. Untuk mencapai itu, perlu waktu yang panjang, setidaknya hingga tahun 2140.

Tekan Inflasi
Konsep dasar ekonomi Bitcoin adalah anti inflasi alias deflationary, di mana nilai Bitcoin harus mampu menekan persentasi penurunan nilainya, berbanding relatif dengan jumlah Bitcoin yang beredar. Di sinilah peran besar halving.

Saat ini inflasi Bitcoin adalah 3,68 persen per tahun (dalam US dolar). Artinya nilai real per 1 BTC adalah setelah dikurangi sebanyak 3,68 persen itu. Nah, setelah halving nanti, diperkirakan nilai inflasi hanya 1,80 persen.

Jika dihitung rasionya, maka nilai Bitcoin secara prinsip lebih bernilai dibandingkan sebelum halving, karena pasokannya berkurang seiring waktu, termasuk tingkat kesulitan penambangan juga akan bertambah.

Potensi Kenaikan Harga
Bitcoin memanfaatkan model ekonomi, di mana jikalau sebuah objek bernilai semakin langka, maka permintaannya akan semakin banyak, serupa seperti emas.

Dengan kata lain, halving yang mengurangi jumlah pasokan Bitcoin secara bertahap, berpotensi meningkatkan permintaan (demand/pembelian) terhadap Bitcoin. Artinya, harga Bitcoin berpotensi naik lebih tinggi daripada sebelumnya setelah halving, dengan harapan bisa melampaui harga Bitcoin tertinggi sepanjang masa, US$20.000 pada medio Desember 2017 silam.

Pun ramalan ini, diasaskan kepada data riwayat halving sebelumnya. Setelah Halving pertama dan kedua, membuktikan ada kenaikan harga Bitcoin yang sangat signifikan.

Halving pertama
Pada 28 November 2012, Bitcoin mengalami halving pertama, di blok ke-210.000. Imbalan per blok yang diterima penambang kala itu berkurang dari 50 BTC per blok menjadi 25 BTC. Pengurangan pasokan yang sedemikian signifikan berdampak besar pada kenaikan harga Bitcoin.

Setelah mencapai titik terendah pasar di US$2 pada 19 November 2011, Bitcoin memasuki tren naik selama setahun. Bitcoin melonjak hampir 500 persen untuk menyambut halving pertama itu.

Ketika halving pada 28 November 2012, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$12. Sejak saat itu, Bitcoin meroket lebih dari 9708,3 persen, memuncak pada harga tertinggi sepanjang masa dari US$1.177 pada 30 November 2013.

Halving kedua
Halving kedua jatuh pada 9 Juli 2016, di blok ke-420.000. Pada saat itu, imbalan 25 BTC berkurang menjadi 12,5 BTC per blok. Seperti pada halving pertama, halving kedua ini berdampak positif terhadap harga Bitcoin.

Pada 14 Januari 2015, Bitcoin mencapai titik terendah pasar dengan harga US$164 setelah pasar tahun 2014. Sejak itu, Bitcoin melonjak hampir 300 persen ke level tertinggi US$650.

Setelah melewati halving, Bitcoin memasuki kenaikan parabolik, melesat hingga 29 kali. Bitcoin pun mencapai level tertinggi sepanjang masa hingga US$19.765 pada 17 Desember 2017. Sejak saat itu pula Bitcoin masih dalam wilayah tren turun, belum mampu melampui level itu.

Menuju Halving ketiga
Sejauh ini, Bitcoin mencapai titik terendah pasar pada 15 Desember 2018, dengan harga US$3.150, setelah 17 Desember 2017. Bitcoin enggan tertekan di bawah harga itu.

Sejak itu, Bitcoin naik sekitar lebih dari 300 persen pada 27 Juni 2019 (US$13.700). Dan saat ini diperdagangkan sekitar US$8.700.

Sekarang, investor tampaknya mengantisipasi harga yang lebih tinggi pada halving periode ketiga ini, mengulangi sejarah kenaikan harga Bitcoin yang luar biasa pada halving sebelumnya.

Halving ketiga ini pula adalah penentuan sangat penting. Jika berpatokan pada konsep bahwa “sejarah akan berulang”, maka Bitcoin diharapkan bisa melampaui harga US$20.000 setelah halving ketiga ini, sebagai syarat utama kenaikan lebih Bitcoin berikutnya.

Kesimpulan

  1. Halving adalah faktor terpenting dalam mengukur potensi kenaikan harga Bitcoin, melebihi harga tertinggi sebelumnya.
  2. Bitcoin cenderung memulai kenaikan harga baru setidaknya satu tahun sebelum halving. Lalu melanjutkan penguatan itu setelah halving, yang berlangsung setidaknya selama satu tahun.
  3. Harga berbalik arah (retrace) setelah siklus harga baru terbentuk. Pembalikan arah itu rata-rata terjadi selama satu tahun. Tercatat, Bitcoin pernah kehilangan nilainya hingga 80 persen pada masa pembalikan arah itu.
  4. Bitcoin selalu membentuk harga terbaru tertinggi setelah halving. Namun, secara historis, untuk mencapai itu, perlu beberapa bulan setelah tanggal halving.
  5. Bitcoin naik setidaknya rata-rata 3000 persen setiap setelah halving. Jika menggunakan asumsi itu, dengan harga acuan US$7200 per BTC, maka Bitcoin bisa mencapai US$216.000 (Rp2,9 miliar) per BTC, paling tidak satu tahun setelah halving Mei 2020, yakni Mei 2021. [*]

Be the first to write a comment.

Your feedback