Mengenal Aset Kripto LINK yang Tersedia di Triv.co.id

Sejak 26 Agustus 2020, bursa aset kripto Triv.co.id dan Tpro.co.id, memperdagangkan aset kripto Chainlink (LINK) dan Algorand (ALGO). Menghadirkan dua aset kripto itu adalah demi mengakomodir permintaan pengguna setia kami. Lagipula dua aset kripto itu sedang bertumbuh cukup kinclong. Artikel kali ini memaparkan apa itu aset kripto LINK dan teknologi Chainlink dengan cukup lengkap.

Weiss: Tak Ada Defi Tanpa LINK
Weiss Crypto Ratings, anak perusahaan dari perusahaan pemeringkat Weiss Ratings khusus aset kripto mengatakan belum lama ini bahwa DeFi alias Decentralized Finance tidak akan ada dan berkembang seperti saat ini, jikalau tanpa teknologi Chainlink dan aset kripto LINK.

Ini menggambarkan betapa besarnya peran teknologi Chainlink dalam ekosistem DeFi.

Perusahaan induk Weiss Ratings sendiri amat berpengaruh di dunia investasi dan keuangan dunia. Berdiri sejak tahun 1972 mereka fokus pada penelitian dan prediksi mengenai saham, valuta dan lain sebagainya.

Dan mulai tahun 2013 mereka mendirikan divisi khusus, yakni Weiss Crypto Ratings dalam memeringkatkan aset kripto berdasarkan mutu dan nilainya.

Dalam satu video khusus ini, pendiri perusahaan, yakni Martin D. Weiss bahkan menyarankan masyarakat untuk terus meninjau aset kripto LINK berkat keunggulan teknologi yang diusungnya.

Lonjakan US$7 Miliar Sektor DeFi
Dunia aset kripto kian beragam. Kelas aset baru itu, selain diperlakukan selayak komoditi seperti emas, ia pula diperkaya dengan mengadopsi konsep perbankan tradisional dan lembaga keuangan non-perbankan, misalnya lending (peminjaman) uang.

Kini kita mengenal itu dalam konsep Decentralized Finance (DeFi) yang Total Value Locked (TVL)-nya sudah tumbuh US$7 miliar sejak tahun 2017 dan sejak Juni 2020 melejit sangat cepat. Lihat lebih rinci dari Defipulse.com.

Dengan kategori Lending yang mendominasi di DeFi Anda bisa meminjam aset kripto dengan jumlah tertentu berdasarkan jaminan aset kripto juga dengan besaran tertentu. Anda pun bisa mendapatkan bunga (interest) dengan cara itu.

Yang menarik adalah, Anda bisa melakukan itu tanpa melalui bank, jadi memang tak perlu rekening bank sama sekali. Cukup gunakan wallet aset kripto.

Bahkan prosesnya terbuka, siapa saja boleh ikut. Utamanya lagi, karena mengandalkan smart contract dan berjalan di blockchain (lazimnya Ethereum), sektor DeFi berjalan secara otomatis, praktis sedikit campur tangan manusia di dalamnya (code-based).

Singkatnya di DeFi begini, punya aset kripto, pinjamkan, diamkan dan ambil bunga berikut modalnya. Sederhana.

Pun ada banyak mekanisme lain di DeFi yang terus memantik perhatian banyak orang. Aset kripto lain di DeFi yang popular, Aave (LEND) misalnya kini sudah berkapitalisasi pasar lebih dari US$1 miliar. Sedangkan LINK lebih hebat lagi, mencapai US$5,5 miliar.

Dalam 24 jam terakhir, per 26 Agustus 2020, berdasarkan data dari Coingecko, volume perdagangannya mencapai US$1,1 miliar. Angka itu jauh melampaui LEND, yang hanya US$366 juta.

Sedangkan di Coinmarketcap.com yang memeringkat aset kripto secara umum, LINK berhasil masuk di jajaran 10 besar aset kripto besar. Per 26 Agustus 2020 malam hari, LINK berada di peringkat ke-6, bahkan beberapa jam sebelumnya melewati peringkat Bitcoin Cash.

Dengan capaian itu, return of investment aset kripto LINK gila-gilaan, mencapai 9 ribu persen sejak ia diperdagangkan pada 23 September 2017 di kisaran harga Rp1.852,52.

Lantas mengapa Chainlink (LINK) itu begitu unik dan layak sebagai raja aset kripto di sektor DeFi?

Kaji Teknologi
Patut dicatat bahwa dasar kajian aset kripto tertentu dimulai dari basis teknologinya, apakah dia cukup masuk akal untuk diterapkan dan praktiskah ia digunakan bersama dengan teknologi lainnya.

data input diagram smart contracts
Masalah baru di ekosistem blockchain yang dibuatkan solusinya oleh Chainlink, yaitu memadukan antara data input eksternal (non-blockchain) dengan data transaksi di blockchain yang berbeda.

Faktanya positif. Buktinya adalah pada Juni 2019, Google Cloud memaparkan kajian yang sangat rinci dan panjang soal bagaimana teknologi yang digunakan Chainlink bermanfaat untuk mencacah data eksternal di luar sektor aset kripto. Bagi Google, teknologi Chainlink berguna untuk memperkaya penggunaan Big Data, satu sektor yang juga tak kalah hebatnya.

Kajian Google sebenarnya sekadar menegaskan visi dasar dari pengagas Chainlink, Sergey Nazarov, dan Steve Ellis, bahwa data eksternal harus bisa berpadu (integrating) dengan data internal di ekosistem aset kripto, memanfaatkan smart contract di blockchain.

Connect to Any External API. Send Payments Anywhere.
Paling kiri dan kanan adalah data masukan (input), bisa berupa data statistik dan dari komputer cloud dan data dari beragam sumber, termasuk itu berupa data kurs mata uang. Data itu itu kemudian dipadukan dengan protokol Chainlink dan dipadukan ke dalam beragam blockchain lainnya.

Bahwa misalnya kelak platform DeFi ingin memadukan data dari perbankan untuk urusan pinjam meminjam aset kripto, itu sangat dimungkinkan.

Dalam konteks sports gambling misalnya teknologi Chainlink juga memungkinkan memadukan data eksternal pertandingan sepakbola di blockchain, sehingga datanya ditampilkan di satu aplikasi.

Artinya teknologi itu sejatinya sebagai jembatan yang menghubungkan data eksternal di luar ekosistem blockchain dan disatukan serta dikombinasikan ke blockchain, lalu diperkaya dengan imbalan aset kripto.

Nah, saat ini teknologi Chainlink masih terbatas digunakan di ekosistem aset kripto, khusus untuk urusan data masukan di sektor DeFi itu. Dengan Chainlink-lah, dalam jaringan Oracle , memungkinkan banyak data preferensi di DeFi, misalnya data kurs BTC/USD, ETH/USD dan lain sebagainya. Dan itu bisa dilakukan lintas blockchain, termasuk blockchain Bitcoin.

A Highly Reliable Decentralized Oracle Network diagram
Hasil akhir data menggunakan teknologi Chainlink.

Data kurs BTC/USD misalnya dikumpulkan oleh protokol Chainlink dari Synthetics, Loopring, DMM, Aave (LEND) dan lain sebagainya. Hasil kumpulan data itu juga selanjutnya digunakan juga oleh sejumlah DeFi itu.

Singkatnya teknologi Chainlink adalah teknologi acuan bagi data yang digunakan oleh sektor DeFi.

Nah, mengingat teknologi Chainlink memanfaatkan smart contract dan berjalan di blockchain, maka tingkat kepercayaan dan kesahihan olah data-nya bisa lebih dipercaya, karena tamper proof, sifat dasar data blockchain itu sendiri.

Aset kripto LINK
Sebagaimana proyek blockchain lainnya, Chainlink memiliki native-asset tersendiri, yakni disebut LINK. Perannya adalah sebagai aspek insentif (reward/imbalan) kepada pengelola node (simpul) jaringan Chainlink itu sendiri. Ini disebut sebagai governance token.

Semakin banyak jumlah node-nya, maka semakin banyak pula permintaan/pembelian terhadap aset kripto LINK, karena pihak yang ingin menjadi node operator, harus membeli aset kripto LINK dengan jumlah tertentu.

Keberadaan node itu juga menjamin keberlangsungan jaringan untuk menyediakan data yang baik bagi DeFi.

Ada pula aspek LINK staking, di mana Anda bisa menyimpan beberapa LINK di wallet Anda, Anda bisa mendapatkan imbalan dalam satuan tahunan (annual). [*]

Comments are closed for this post.