Penelitian: Bitcoin sebagai Alternatif Uang Fiat

Hasil penelitian terbaru dari Digital Assets Data terungkap, bahwa Bitcoin ternyata digunakan sebagai “penyimpan nilai” alias store of value, sebagai alternatif dari mata uang fiat di sejumlah negara yang berinflasi tinggi. Sedangkan di negara yang inflasinya rendah, secara umum Bitcoin diperdagangkan spekulatif. Kedua hal tersebut berpotensi dijadikan sebagai pendorong bagi kenaikan harga Bitcoin.

“Kami menemukan bahwa di sejumlah negara berkembang, di mana kebijakan moneter dan kebijakan bank yang kurang stabil, volume perdagangan Bitcoin terus meningkat, walaupun harga Bitcoin menunjukkan penurunan,” kata Mike Alfred, CEO dan Pendiri Digital Assets Data, seperti yang dilansir dari Forbes.com.

Alfred juga mengungkapkan, kendati fenomena ini terjadi di negara berskala ekonomi yang lebih kecil, jika terjadi ketidakstabilan di negara berkembang, kemungkinan melalui resesi ataupun meningkatkan angka pengangguran, ada kemungkinan peningkatan minat terhadap Bitcoin. Ini memungkinkan sebagai pendorong positif kenaikan harga Bitcoin.

Penelitian yang didasarkan pada data LocalBitcoins itu, menunjukkan volume perdagangan Bitcoin cenderung naik di negara-negara yang berinflasi tinggi. Dan pergerakannya terlihat independen terhadap harga Bitcoin. Ini ditunjukkan dengan volume perdagangan terkait dengan perubahan harga Bitcoin di negara-negara yang berinflasi lebih rendah.

Ketika harga Bitcoin turun sejak Desember 2017 hingga Desember 2018, volume perdagangan Bitcoin bulanan di negara-negara berinflasi rendah turun hingga 70 persen. Sedangkan di negara berinflasi tinggi meningkat hingga 60 persen. [red]

Be the first to write a comment.

Your feedback