Pesan di Dalam Botol.

Just a castaway an island lost at sea. Another lonely day with no one here but me. More loneliness than any man could bear. Rescue me before I fall into despair. ~Message in the Bottle, The Police.

Pekan lalu di sebuah gedung pertemuan di kota di Kalimantan Barat. Sekitar lima menit, empat insan berbincang seru tentang Bitcoin setelah tahu ada uang elektronik yang tidak dibuat oleh negara. Wacana semakin asyik tatkala diberitahu bahwa uang komunitas itu bisa ditukar ke uang fiat. Hingga satu pertanyaan menggugah keluar dari dari mulut seseorang, “Memangnya selama ini kita belum memiliki uang elektronik, bang?” Tak ingin melukai perasaan lawan bicara, kami hanya tertawa di dalam hati mendengar pertanyaan itu.

Di tempat yang sama, selama dua hari kami di kota itu, hanya orang itu yang menyatakan rasa ingin tahu tentang bitcoin, kripto, blockchain dan aset digital. Modal visual yang kami tempatkan adalah hanya berupa standing banner sederhana. Berharap banyak yang bertanya langsung, dari ribuan orang yang berlalu lalang, hanya orang itu yang cukup antusias berwacana. Dia cukup tenggelam sejenak, tapi kami berharap ia banyak mencari tahu apa yang kami maksud selepas perbincangan itu.

Di lain kesempatan, di dalam pesawat terbang, tiga minggu lalu kami bersua dengan dua orang warga Malaysia. Mengaku bisa beli Lambo gara-gara main kripto, tetapi ia belum pernah membaca whitepaper Bitcoin karya Satoshi Nakamoto. Memang bukan dosa besar belum membaca “karya ilmiah” itu, tetapi mengaku pemain besar kripto tanpa mengisi otaknya dengan ilmu dasar sistem uang elektronik peer-to-peer, kami pikir itu aneh luar biasa.

Kami pikir dua peristiwa itu mewakili corak pikir masyarakat dunia. Di tengah lompatan-lompatan seksi teknologi baru, sebagian besar masyarakat tak merasakan kehadirannya sebagai bentuk perubahan baru yang sedang berkelebat. Barangkali saking cepatnya perubahan dan dialog yang cas cis cus, mereka yang awam hanya bisa mengangguk tanda tak paham, mungkin hanya karena ingin menghormati lawan bicaranya.

Maka, yang ahli blockchain tak elok mengunggah rasa egonya yang terlampau besar dalam dialog. Percuma ingin memperkenalkan kripto kepada awam, jikalau bahasanya saja sulit dicerna. Saya jadi ingat kata kakek Albert Einstein. Dia bilang: If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough. Orang awam tak akan peduli dengan bahasa teknik dan rumit. Mereka perlu kalimat yang sederhana. Semestinya ada perumpamaan di dalamnya dan disampaikan seringkas mungkin. Dengan kata lain, jika hendak menuntun orang di jalan yang remang, jangan sorotkan lentera langsung ke matanya, tetapi dekatkan dengan kakinya, tetapi perlahan. Silaunya mata justru membuat mereka menghindar.

Kami menjumpai percobaan bahasa sederhana itu kemarin di kota lain. Awalnya, kami pikir itu usaha yang bagus, tetapi gagal di akhir. Lawan bicara justru semakin bingung, karena dibumbui dengan aneka materi presentasi yang tak jelas maksudnya apa. Hingga akhir presentasi, tidak ada peragaan blockchain sama sekali, padahal teknologi yang diusungnya sudah punya platform berbasis visual yang baik sekali.

Sebagai sebuah kesadaran, yang ingin menghantarkan pengetahuan yang baik, harus disampaikan dengan cara komunikasi yang baik dan efektif juga. Tanpa itu, kelak nanti, kita tak ubahnya terdampar di pulau terpencil, susah menjumpai orang lain. Kita hanya bisa mengirimkan pesan di dalam botol yang dilarung ke lautan tanpa tahu siapa yang menerima dan kapan. [vins]

 

Be the first to write a comment.

Your feedback