Aset Kripto: Anjai! TVL DeFi Menuju US$10 Miliar!

Betul-betul sangat fenomenal aset kripto zaman now! Itu dibuktikan dengan Total Value Locked (TVL) di sektor DeFi alias keuangan desentralistik, terus menguat menuju US$10 miliar! Hari ini sempat menclok di US$9,55 miliar.

Tampaknya perhatian dunia tersedot ke DeFi ini, sehingga berdampak pada meningkatnya harga Ether (ETH) dalam beberapa pekan ini. Di triv terpantau siang ini, ETH diperdagangkan di kisaran Rp6,9 juta. Posisi ini naik berkali-kali lipat sejak medio Maret 2020 lalu.

Haraplah maklum, sebab sebagian besar DeFi dalam wujud aplikasi desentralistik (dApp) itu berjalan di blockchain Ethereum. Lagipula aset kripto yang dijadikan agunan (collateral) di DeFi adalah aset kripto ETH, yang mencapai 6,4 juta unit ETH.

Terpantau beberapa jam lalu di DefiPulse, TVL DeFi mencapai US$9,55 miliar. Angka itu akumulasi sejumlah stablecoin bernilai dolar AS, aset kripto Ether (ETH) dan Bitcoin. Lejitan cepat terjadi sejak Juni 2020 (US$1,1 miliar).

Nilai Bitcoin sendiri ter-lock di DeFi mencapai 67,4 ribu BTC, agak turun sebelumnya karena sempat 72 ribu BTC. Banyaknya BTC itu adalah sebagai agunan (collateral) untuk mendapatkan stablecoin bernilai dolar atau aset kripto lainnya.

Masifnya gerak DeFi meyakinkan Raoul Pal, si penghayat Bitcoin, pendiri dan CEO The Real Vision dan Global Macro yang mengatakan, bahwa harga Bitcoin dibantu naik oleh eksistensi DeFi alias keuangan desentralistik. DeFi saat ini Total Value Locked (TVL)-nya menuju US$10 miliar.

“Pada akhirnya yang akan membantu Bitcoin menjadi ‘jaminan’ di masa depan adalah yield curve, yang sedang difasilitasi oleh ledakan keuangan desentralistik (DeFi) saat ini,” kata Pal, dilansir dari Decrypt.

Terkait dengan DeFi itu pula ada aset kripto yang unik, di mana harganya bisa lebih mahal daripada Bitcoin, yakni Yearn.finance (YFI).

Bayangkan saja, baru diterbitkan pada Juli 2020, harga YFI mencapai lebih dari Rp500 juta per YFI. Sedangkan Bitcoin hanya mampu di kisaran Rp174 jutaan per BTC.

Protokol ini secara otomatis memindahkan dana pengguna antar berbagai protokol peminjaman DeFi, seperti Compound, Aave dan dYdX, bergantung kepada pool aset stablecoin yang memberikan imbal hasil tertinggi.

Stablecoin yang bisa didepositkan ke yearn.finance saat ini mencakup DAI, USDC, USDT, TUSD dan sUSD.

Keseluruhan ekosistem yearn.finance dikembangkan oleh komunitas dan diatur melalui mekanisme token YFI.

Berbeda dengan Bitcoin yang ditambang, pengguna bisa melakukan farming (“berternak”) token YFI dengan cara mendepositkan dana (disebut dengan liquidity provider atau penyedia likuiditas) ke salah satu platform yearn.finance.

Setelah melakukan langkah tersebut, dana pengguna dikonversikan ke ytoken (yield optimized token atau token dengan imbal hasil teroptimasi) dengan jumlah ekivalen. Contohnya, DAI milik pengguna diubah menjadi yDAI.

LINK dan ALGO
Pun jangan lupa memusatkan perhatian ke aset kripto LINK dan ALGO yang tersedia di Triv.co.id dan Tpro.co.id.

LINK misalnya didapuk oleh Weiss sebagai protokol penentu di DeFi ini, karena teknologinya memampukan pengolahan data secara sahih dan akurat.

Itulah sebabnya Chainlink beberapa waktu lalu membeli protokol DECO buatan Universitas Cornell untuk memastikan privasi lebih terlindungi.

DeFi Terus Maju
Menurut hemat kami DeFi akan terus mendapatkan apresiasi positif di tengah badai resesi ini, sebab orang kian mencari kendaraan mendapat cuan yang cepat dan besar.

Mereka pada prinsipnya membandingkan situasi logis, di mana pasar dan saham dan kelas instrumen lainnya gagal memberikan imbal hasil yang memuaskan. Ini adalah dampak dari sifat DeFi yang desentralistik, di mana setiap orang berinteraksi langsung (peer-to-peer) dengan orang lain melalui satu sistem yang non-sentralistik.

Satu hal pasti, ini adalah pembuktian jelas, bahwa teknologi smart contract plus blockchain berperan sangat besar, berseberangan dengan sektor pasar tradisional yang terlalu memakan biaya, waktu. Sangat tak efisien! [*]

Comments are closed for this post.